Selasa, 26 April 2011

Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah


psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Psikologi pendidikan berperan penting dalam peningkatan mutu siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip psikologi kedalam dunia pendidikan.

Perbedaan antara psikolog pendidikan dan psikolog sekolah yaitu:
Psikolog sekolahbekerja dalam ruang lingkup sekolah dan  berkewajiban untuk meningkatkan kualitas sekolah agar sekolah tersebut memiliki mutu yang lebih baik. Psikolog sekolah juga memiliki kewajiban untuk memberikan penilaian terhadap kualitas guru dan memberikan inovasi baru bagi guru dalam mengajar sedangkan Psikolog pendidikan memiliki ruang lingkup kerja yang luas. Psikolog pendidikan menyelesaikan masalah pendidikan sejak pendidikan pra sekolah hingga perguruan tinggi, setting kelas, sistem sekolah, dan sebagainya. Dengan demikian, psikolog pendidikan memiliki peranan penting dalam mencari titik temu dalam tantangan pendidikan pada suatu bangsa.


Sumber : Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta

Kamis, 07 April 2011

Memandang Fenomena Pendidikan Lewat Berbagai Teori


Ada banyak fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia, ada yang membawa dampak buruk ada pula yang membawa dampak baik. Semua tergantung pada cara kita memandang dan menanggapi setiap fenomena yang terjadi. Berikut ini ada 3 fenomena seputar dunia pendidikan di Indonesia beserta pembahasannya ditinjau dari sudut pandang beberapa teori.

FENOMENA 1 “HOMESCHOOLING”

Pendidikan Homeschooling saat ini sedang marak-maraknya dilakukan oleh para orang tua kepada anaknya untuk bersekolah tetapi sekolahnya di rumah dengan bantuan guru yang bisa jua gurunya adalah orang tua,guru private,atau para tutor mengajar anak di rumah.Ia tidak terikat pada lembaga pendidikan konvensional seperti sekolah atau lembaga nonformal lainnya.Tetapi kurikulum yang digunakan mengacu pada kurikulum pemerintah.

PEMBAHASAN

1. Teori Psikologi Pendidikan
Berdasarkan teori pendidikan dapat diketahui dalam artikel tersebut bahwa anak-anak dapat memiliki program apa saja yang dia sukai untuk dapat bersekolah salah satunya homeschooling tersebut.Jika dulu homeschooling diperuntukkan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Dengan adanya homeschooling ini,setiap anak dapat mengembangkan potensial yang ada pada dirinya sesuai mata pelajaran yang disukainya secara maksimal,anak homeschooling jua lebih aktif dan serius dalam pembelajaran belajar dirumahnya daripada diluar rumah seperti sekolah. Tapi homeschooling ada jua dampak negatifnya,kurangnya sosialisasi seorang anak terhadap lingkungan luarnya atau kurangnya sosialisasi terhadap teman sebayanya dalam pengalaman hidup.Dan jika anak homeschooling cuma belajar bersama guru atau tutor yang mengajarinya,dan gak adanya persaingan untuk mencapai prestasi atau sebuah peringkat atau juara siapa yang paling pintar diantara yang pintar atau diantara teman-teman sebayanya.itu salah satu dampak negatifnya homeschooling.

2. Teori Pendidikan Keluarga
Dalam pembahasan teori ini terhadap artikel tersebut bahwa anak-anak yang homeschooling walaupun tidak belajar di sekolah namun mereka dapat belajar di rumah bersama keluarganya.dalam hal ini anak hanya bersosialisasi dengan keluarganya tanpa adanya teman sebaya nya.Keluarga bisa dianggap sebagai pengganti temannya sehingga keluarga yang tinggal bersamanya dalam satu rumah dianggap sudah seperti temannya.Misalnya peran orang tua sebagai keluarganya yang sekarang dekat padanya yaitu mengetahui segala perasaannya yang sedang sedih,kacau,maupun senang,pembentuk kepribadian mental, sikap dan perilaku anaknya kepada orangtuanya.Dalam hal ini peran orang tua terhadap anaknya sangat penuh dalam hal apapun yang masih berada di lingkungan keluarganya.Orang tua dapat mengetahui,mengontrol,dan menasehati perilaku2 anak yang baik maupun yang tidak baik daripada jika anak berada di sekolah dan juga dapat mengompakkan antara anak dan orang tua.Jika berada di sekolah tentu saja orangtua hanya sepintas tahu bagaimana perilaku anaknya itupun kalau dikasi tahu oleh gurunya.itu makanya orangtua salah satunya memilih homeschooling utk dapat anaknya dapat belajar dengan baik

3. Teori Bimbingan Sekolah
Dalam pembahasan dari teori bimbingan sekolah dapat diketahui dalam artikel tersebut bahwa anak-anak homeschooling dapat belajar dengan baik dan dapat mengekspresikan dirinya atau mengembangkan bakatnya,membentuk kepribadian dan karakter sifat anak tersebut sesuai pengetahuan yang didapatnya dari tutor atau guru tanpa harus belajar di sekolah.sistem pengajarannya sama seperti sistem pengajaran/kurikulum yang dibuat oleh pemerintah yaitu dengan dibantu oleh guru-guru atau tutor yang datang ke rumah untuk belajar bersama anak tersebut.Memang dalam teori Gadner dikatakan bahwa intelegensi setiap anak berbeda-beda walaupun begitu bukan berarti anak yang belajar di rumah intelegensi lebih rendah dari pada anak2 reguler yang biasa belajar di sekolah.malah dapat kita lihat dari pembahasan artikel diatas,anak2 yang homeschooling lebih bagus nilainya atau lebih tinggi nilainya pada saat ujian nasional daripada anak2 reguler biasa yang belajar di sekolah.itu salah satunya menunjukkan sebenarnya ada jua manfaat keduanya2 anak di sekolahkan di salah satunya tersebut.

FENOMENA 2 “KEBOCORAN UAN”

Ujian Akhir Nasional merupakan tolak ukur bagi para pelajar untuk dapat menerima predikat lulus dalam menamatkan pendidikannya. Ujian Akhir Nasional yang memiliki standar nilai kelulusan cukup tinggi menjadi momok menakutkan untuk para pelajar. Kebanyakan pelajar merasa cemas akan tidak lulus, pihak sekolah sendiripun akan merasa malu bila para siswa di sekolahnya tidak dapat lulus dalam Ujian Akhir Nasional. Ketakutan pihak sekolah dan para pelajar tersebutlah yang akhirnya membuka cela untuk mencoreng nama baik UAN dengan melakukan berbagai kecurangan untuk dapat meluluskan para pelajar.

PEMBAHASAN

1. Teori Psikologi Pendidikan
Teori psikologi pendidikan tentu saja mengajarkan etika yang baik bagi pengajar ataupun pelajar dalam proses pembelajaran. Namun bila pada kasus seperti fenomena diatas tentunya itu sudah melenceng jauh. Nama pendidikan sudah tercoreng oleh ulah oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Perilaku curang dalam ujian nasional akan menjadi pengajaran yang buruk bagi para penerus bangsa. Seharusnya para guru memberikan motivasi para pelajar agar mau bekerja keras untuk mendapat nilai ujian yang baik, bukan malah meluruskan tindakan pelajar yang menyalah.

2. Teori Pendidikan Keluarga
Keluarga adalah faktor yang sangat mempengaruhi sikap dan perilaku seorang anak, apabila seorang anak dididik oleh keluarga yang baik tentunya anak tersebut akan bertingkahlaku baik pula. Namun jika sang anak tidak di berikan pengajaran yang baik dirumah maka dalam bermasyarakat tentunya sang anak juga akan bermasalah. Dalam kasus kecurangan unjian nasional sebenarnya peran keluarga atau orang tua memiliki andil yang cukup besar. Apabila sedari kecil orang tua sudah menanamkan nilai kejujuran pada sang anak tentunya anak tidak akan mau melakukan kecurang pada ujian nasional. Dan bila orang tua juga telah mengenalkan sikap berjiwa besar dalam menerima kekalahan sang anaknya tentunya tidak akan begitu cemas untuk menghadapi ujian akhir nasional.

3. Teori Bimbingan Sekolah
Sekolah sebagai rumah kedua para pelajar, sudah selayaknya menjadi tempat bernaung dan belajar bagi para pelajar. Penanaman nilai-nilai kejujuran dan etika yang telah dibawa dari rumah seharusnya dapat diterapkan disekolah. Namun jika akhirnya malah terjadi kejadian seperti kebocoran ujian akhir nasional didalam sekolah, dapat dipastikan sekolah tersebut tidak menjujung nilai kejujuran dan sportifitas. Pihak sekolah belum mampu untuk mendidik perilaku para pelajarnya karena perilaku pihak sekolah sendiri masih belum benar.

FENOMENA 3 “EKONOMI PENGHAMBAT PENDIDIKAN”
Bukan menjadi rahasia umum jika uang adalah pengatur segala macam urusan di negara ini. Uang adalah hal terpenting bagi seseorang untuk dapat memenuhi hal yang diinginkannya. Begitu juga dengan pendidikan di negeri ini yang dapat diraih jika seseorang memiliki uang yang cukup. Di Indonesia masih banyak daerah terpencil yang belum terjangkau pendidikan. Masyarakat daerah terpencil yang sudah mengenyam bangku pendidikan mendapat porsi pendidikan yang berbeda dengan masyarakat kota dikarenakan kekurangan biaya, tenaga pengajar, sarana prasarana sekolah, dan masih banyak lagi hal yang menjadi faktor mengapa pendidikan begitu langka di beberapa tempat di tanah air bahkan pelaksanaan pendidikan di Indonesia kurang merata terkesan tidak diperdulikan.

PEMBAHASAN

1. Teori Psikologi Pendidikan
Berdasarkan teori psikologi pendidikan ada beberapa tindakan yang bisa ditawarkan sekalipun hanya untuk sekedar meminimalisir ketidakseimbangan antara pendidikan di desa dan dikota antara lain
a. Membentuk pandangan positif mengenai pentingnya pendidikan
b. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
c. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
d. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.
e. Menciptakan iklim belajar yang kondusif.
f. Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.
g. Menilai hasil pembelajaran yang adil
h. memperhatikan minat dn prestasi siswa khususnya siswa yang kurang mampu

2. Teori Pendidikan Keluarga
Keluarga didesa dengan keluarga di kota memang memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Mulai dari cara pandang dan berfikir sampai cara mendidikan seorang anak. Kebanyakan keluarga didesa tidak begitu memprioritaskan pendidikan anaknya, terutama anak perempuan yang dianggap hanya akan tinggal dirumah. Dengan keterbatasan keluarga didesa pihak yang paling bertanggungjawab untuk fenomena ini adalah pemerintah. Pemerintah harus lebih memperhatikan semua masyarakat dari berbagai macam kalangan. Bila pemerintah mau tanggap untuk melakukan sosialisasi tentunya pola pikir masyarakat desa akan bisa lebih maju (desa= daerah terpencil)

3. Teori Bimbingan Sekolah
Sekolah didaerah terpencil tentunya sangat jauh berbeda dengan sekolah didaerah perkotaan. Sarana prasarana yang berbeda, tenaga pengajar yang kekurangan dan akses menuju sekolah yang kurang baik membuat pendidikan jadi begitu mahal. Semua hal tersebut tergantung pada kebijakan pemerintah, apabila pemerintah mau memperhatikan pendidikan didaerah terpencil seperti tenaga pengajar yang baik sarana dan prasarana yang bagus pendidikan di sekolah-sekolah daerah terpencil akan dapat maju dan setara dengan pendidikan didaerah kota besar.

Kamis, 17 Maret 2011

intelegensi


Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi ?

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :

Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age).
Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Pengukuran Inteligensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.


Inteligensi dan Bakat
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah Tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.


Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

(sumber: iqeq.web.id)
http://kentanks.blogspirit.com/archive

Selasa, 08 Maret 2011

Perjalanan Hidup

Mungkin mereka ada disekitar kita















berapa uang yang kita hamburkan untuk hal yang
tidak bermanfaat selama ini . . .















disaat kecil kita dimanja dan disayang, apa yang
kita minta selalu dikabulkan. . .








































kita mengeluh makanan yang kita makan, disaat
dia menginginkan makanan yg bersih. 













apakah belajar menjadi sebuah beban. . .
Sedangkan dia mengharapkan bisa menulis dengan
baik dan benar . . .



























 
apakah anda merasa hidup anda tidak adil. . .
Bagaimana kehidupan nenek ini seharusnya dia
sudah bisa menikmati masa senjanya . 







































apakah anda merasa pekerjaan atau hidup anda 
sebuah beban yang berat
dan besar . . .
Bandingkan dengan gambar ini . . .






































apakah anda sudah menjadi 
sahabat yg baik ?















Semoga dengan melihat foto ini kita bisa lebih
menghargai indahnya hidup ini.
Ingat Hidup hanya sekali
:D

  • "hal terpenting dalam hidup ini adalah pada saat pemikiran kita bertambah dewasa, kedewasaan hanya bisa kita dapat pada saat kita bisa menerima kritik dan saran dari orang lain dan berusaha mengintropersi diri untuk merubah sifat buruk kita tersebut, selain itu berfikir untuk melihat dampak negatif sebelum kita melakukan sesuatu akan menghindari kita dari masalah dari apa yang sudah kita perbuat..ya kalau memang banyak dampak negatifnya ga usah lah kita lakukan...."

sekian..
jangan lupa komentarnya yach teman2 ^^
tengkyuu all
:))




TUJUAN INSTRUKSIONAL



Ada beberapa definisi yang disampaikan oleh beberapa tokoh seperti Robert F. Magner (1962) yang mendefinisikan tujuan instruksional sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa sesuai kompetensi. Juga ada Eduard L. Dejnozka dan David E. Kavel (1981) yang mendefinisikan tujuan instruksional adalah suatu pernyataan spefisik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku yang diwujudkan dalam bentuk tulisan yang menggambarkan hasil belajar yang diharapkan serta Fred Percival dan Henry Ellington (1984) yang mendefinisikan tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang jelas menunjukkan penampilan / keterampilan yang diharapkan sebagai hasil dari proses belajar. Setelah kita mengetahui beberapa definisi tujuan instruksional yang dikemukakan dari beberapa tokoh kita dapat mengambil beberapa manfaat yaitu
Kita dapat menentukan tujuan proses belajar mengajar
Menentukan persyaratan awal instruksional
Merancang strategi instruksional
Memilih media pembelajaran
Menyusun instrumen tes sebagai evaluasi belajar
Melakukan tindakan perbaikan pembelajaran.
Ada dua macam tujuan instruksional yaitu:
Tujuan instruksional umum (TIU)
Tujuan instrusional khusus (TIK)
Dalam pembaruan sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia sekarang ini, setiap guru dituntut untuk menyadari tujuan dari kegiatannya mengajar dengan titik tolak kebutuhan siswa. Oleh karena itu, dalam merancang sistem belajar yang akan dilakukannya, langkah- pertama yang ia lakukan adalah membuat tujuan instruksional. Dengan tujuan instruksional:
Guru mempunyai arah untuk:
Memilih bahan pelajaran,
Memilih prosedur (metode) mengajar.
Siswa mengetahui arah belajanya.
Setiap guru mengetahui batas-batas tugas dan wewenangnya mengajarkan suatu bahan sehingga diperkecil kemungkinan timbulnya celah (gap) atau saling menutup (overlap) antara guru.
Guru mempunyai patokan dalam mengadakan penilaian kemajuan belajar siswa.
Guru sebagai pelaksana dan petugas-petugas pemegang keijaksanaan (decision maker) mempunyai kriteria untuk mengevaluasi kualitas maupun efisiensi pengajaran.
Tujuan pengajaran dapat dirumuskan dengan rumus ABCD. A (audience) adalah siswa yang belajar, B (behavior) adalah perubahan prilaku yang di inginkan terjadi, C (condition) adalah kondisi yang menimbulkan perubahan prilaku yang di inginkan, dan D (degree) adalah derajad ketercapaian perubahan yang diinginkan. Misalkan: setelah membaca diperpustakaan (C) siswa (A) diharapkan dapat menyebutkan macam-macam sholat sunah (B) paling tidak enam jenis (D). 

Pengertian Tujuan instruksional Umum dan Khusus

Tujuan instruksional umum (TIU) adalah tujuan pengajaran yang perubahan prilaku siswa yang belajar masih merupakan perubahan internal yang belum dapat dilihat dan diukur. Kata kerja dalam tujuan umum pengajaran masih mencerminan perubahan prilaku yang umumnya terjadi pada manusia, sehingga masih menimbulkan beberapa penafsiran yang berbeda-beda. Contoh TIU: “setelah melakukan pelajaran siswa diharapan dapat memahami penjumlahan dengan benar”. Kata kerja “memahami penjumlahan” merupakan kata kerja- yang bersifat umum karena pemahaman penjumlahan dapat ditafsirkan berbeda.
Tujuan instruksional khusus (TIK) adalah tujuan pengajaran dimana perubahan prilaku telah dapat dilihat dan diukur. Kata kerja yang menggambarkan perubahan prilaku telah spesifik sehingga memungkinkan dilakukan pengukuran tanpa menimbulkan lagi berbagai perberdaan penafsiran. Misal TIK yang dirumuskan sbb “Siswa akan menunjukkan sikap positif terhadap kebudayaan nasional”, dapat lebih dikhususkan dengan mengatakan “siswa akan membuktikan penghargaannya terhadapa seni tari nasional dengan ikut membawakan suatu tarian dalam perpisahan kelas”.

Klasifikasi Tujuan Instruksional Menurut Jenis Perilaku (internal)
Ilmu psikologi mengenal pembagian aspek kepribadian atas tiga kategori yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Aspek kognitif yang mencakup pengetahuan serta pemahaman, aspek afektif yang mencakup perasaan, minat, motivasi, sikap kehendak serta nilai dan aspek psikomotorik yang mencakup pengamatan dan segala gerak motorik. Dalam kenyataannya dasar pembagian yang demikian kerap menjadi pedoman dalam menggolongkan segala jenis perilaku. Kegunaan dari suatu sistem klasifikasi mengenai tujuan instruksional termasuk tujuan intruksional khusus adalah kita dapat memperoleh gambaran tujuan tujuan instruksional ditinjau dari segi jenis perilaku yang mungkin dicapai oleh siswa. Menurut Bloom dan kawan kawan pengklasifikasian jenis perilaku disusun secara hierarkis sehingga menjadi taraf taraf yang menjadi semakin kompleks.

Kognitif :
Mencakup pengetahuan ingatan yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan
Mencakup pemahaman untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari
Mencakup kemampuan menerapkan suatu kaidah atau metode yang baru
Mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan
Mencakup kemampuan membentuk suatu kesatuan
Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat

Afektif :
Mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan
Mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif
Mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu
Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai
Mencakup kemampuan untuk menghayati nilai nilai kehidupan

Psikomotorik :
Mencakup kemampuan untuk membedakan ciri ciri fisik
Mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam memulai gerakan
Mencakup kemampuan untuk melakukan sesuatu rangkaian gerak gerik
Mencakup kemampuan untuk melakukan sesuatu rangkaian gerak gerik dengan lancar
Mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilandengan lancar, efisien dan tepat
Mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan Pola gerak gerik yang mahir
Mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak gerik yang baru 

Daftar Pustaka